You can enable/disable right clicking from Theme Options and customize this message too.

Selamat Hari Raya Galungan

Galungan dirayakan oleh umat Hindu Bali untuk memperingati kemenangan peperangan Dharma melawan Adharma. Sejarahnya saya belum tahu secara jelas, ada yang menghubungkan dengan cerita Mayadenawa yang menantang perang dengan batara indra. Namun menurut saya, para Maharesi kita dahulu menetapkan hari raya galungan agar umat teringat akan peperangan dalam diri kita antara Dharma melawan Adharma. Ditetapkannya Budha Keliwon wuku Dungulan sebagai hari suci tersebut tentu saja atas pertimbangan mereka para Pandita/Rsi pendahulu kita berdasar pada lontar/kitab suci.
Aji sedang ngerias merajan

 

Di balik peringatan hari suci Galungan ada makna filosofi tersendiri. Menurut hemat saya berdasarkan tri kerangka agama Hindu yaitu: Tatwa, Filsafat dan Upacara, saya dapat mengartikannya sebagai berikut.
Adharma disimbulkan dengan tiga butakala yaitu Sang Butha Galungan, Butha Dungulan dan Butha Amangkurat. Butha Galungan artinya berperang, filosofinya kita didatangi oleh sifat Adharma untuk berperang. Butha Dungulan artinya menundukkan atau mengalahkan, kita pada saat ini ditundukkan oleh sifat adharma tersebut. Butha Amangkurat artinya dikuasai, kita dikuasai oleh adharma.
Pada saat hari Galungan lah kita diberikan kekuatan oleh Sang Hyang Widhi untuk menaklukkan sifat-sifat Adharma tersebut. Peperangan dengan Adharma akan terjadi terus enerus dalam diri manusia. Sifat buruk itu akan menggoda kita, menaklukkan dan bahkan menguasai diri kita, namun dengan merayakan Galungan umat Hindu diingatkan agar memohon kepada Sang Hyang Widhi untuk memberikan petunjuk sehingga kita bisa menaklukkan sifat-sifat Adharma/buruk tersebut.

Bagi saya memperingati hari raya galungan bersama keluarga adalah barang yang sangat mewah. Seandainya Galungan adalah hari Libur nasional  tentu saya bisa pulang dari rantau dan berkumpul keluarga besar di Bali untuk merayakan Galungan (Libur Galungan di Bali diatur oleh Peraturan daerah). Merayakan galungan identik dengan memasang Penjor. Penjor sendiri melambangkan rasa syukur kita atas anugrah kemakmuran dari Ida Hyang Widhi. Saya teringat kalau dalam proses membuat penjor kami sekeluarga mengerjakan bersama-sama, pada saat inilah biasanya ayah saya memberikan wejangan-wejangan tentang keagamaan, berdiskusi akan simbol-simbol dari penjor itu sendiri dan bagaimana memaknai perayaan hari raya Galungan.

Singkat kata hari ini adalah hari suci Galungan, ini waktu yang tepat untuk mengintrospeksi diri apakah sifat-sifat adharma ada yang menguasai diri kita, jika ada maka saat ini waktu yang tepat untuk membangun benteng yang tangguh untuk mencegah diri kita dikuasai oleh sifat-sifat tersebut.

Selamat Hari Raya Galungan.

Share this post

Published by

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Alert: Content is protected !!