You can enable/disable right clicking from Theme Options and customize this message too.

Menanti Pertumbuhan Tempo Scan Pacific

Anda Kenal Bodrex? Obat sakit kepala yang sangat melegenda itu. Atau mengenal produk lain seperti Hemaviton, Oskadon, Neo Rheumacyl, Contrexyn, Vidoran, Zevit grow, S.O.S atau Marina? Ya…di Televisi pasti kita sering melihat iklan-iklan produk tadi riwa-riwi di semua channel stasiun televisi yang sering kita tonton. Perusahaan yang memproduksi produk-produk diatas adalah PT. Tempo Scan Pacific, Tbk. (TSPC).
TSPC logo [sumber: TSPC annual report 2018]
Tempo Scan ini sangat menarik buat saya. Jika kita lihat di bursa efek maka kita akan melihat valuasi yang diberikan pasar pada saham ini masih sangat rendah. Memang di sektor barang konsumsi Tempo Scan kapitalisasinya dan performa perusahaan masih kalah jauh dibandingkan dengan Unilever (UNVR), Kalbe Farma (KLBF) atau dengan Indofood (ICBP dan INDF) namun dengan sederet produk-produk ternama tadi mestinya valuasinya bisa lebih tinggi. Marilah kita lihat rasio Price to Earning (PER) dan rasio Price to Book Value (P/BV) dari beberapa perusahaan sektor barang konsumsi.
  • Tempo Scan Pacific (TSPC)  PBV 1.45, PER 15,
  • Unilever (UNVR) PBV 45, PER 37,
  • Indofood Consumer Brands Product (ICBP) PBV 5.97, PER 29.7,
  • Kalbe Farma (KLBF) PBV 4.6, PER 28.8,
  • Mayora Indah (MYOR) PBV 6.4, PER 31.9,
  • Sido Muncul (SIDO) PBV 6, PER 33,
  • Ultra Jaya (ULTJ) PBV 3.63, PER 24.9,
  • Kino Indonesia (KINO) yang produknya tidak se-terkenal TSPC dihargai PBV 2, PER 28.9,
  • Kimia Farma (KAEF) PBV PER 4.3 PER 35
  • Indofood Sukses Makmur (INDF) PBV 1.33, PER 16.
Anomali juga terjadi pada Indofood Sukses Makmur (INDF) yang nasibnya sama dihargai rendah seperti TSPC. Untuk sektor produk konsumsi PBV rata-rata sektoral adalah 4.02 dan PER rata-rata sektoral adalah 19.79. Nah kalau valuasi TSPC ingin mengejar PBV dan PER sektoral jelas masih undervalue banget. Namun hal ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Terlepas dari rasional dan tidak rasionalnya pasar maka saya akan membahas secara fundamental kenapa ini terjadi satu per satu.
Earning Per Share (EPS) yang turun
Teori mengatakan bahwa harga saham suatu perusahaan oleh pasar divaluasi sesuai dengan kondisi fundamental dari perusahaan. Dan itu sangat tepat untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan harga saham TSPC. Pada gambar dibawah, garis biru memperlihatkan harga saham TSPC, garis kuning memperlihatkan pendapatan (Revenue) perusahaan dan garis merah muda adalah keuntungan per saham (Earning per Share/EPS). Pendapatan perusahaan selama 10 tahun mengalami kenaikan dari 4.49 Triliun di tahun 2008 menjadi 10 Triliun di tahun 2018 atau tumbuh sekitar 10 % per tahun, malah 2 tahun terakhir hanya tumbuh sekitar 5%. Namun pertumbuhan pendapatan tersebut tidak diiringi dengan pertumbuhan keuntungan / EPS. EPS tertinggi yang pernah dihasilkan perusahaan adalah 141 di tahun 2013 dan kemudian turun terus sampai 113 di tahun 2018. Dari gambar dibawah kita lihat juga harga tertinggi yang pernah dicapai TSPC adalah 4750 di tahun 2013 dan itu adalah saat kondisi EPS tertinggi. Setelah tahun 2013 harga TSPC terjun sampai titik terendahnya di 1375 pada tahun 2018.
Grafik Harga TSPC dengan EPS dan Revenue dari tahun 2008-2019 [sumber:stockbit]
Jadi, jika kedepan terjadi pertumbuhan keuntungan perusahaan (EPS) maka harga saham TSPC pasti juga akan tumbuh.
Apakah penyebab dari stagnannya pertumbuhan dari TSPC?
Tempo Scan ini bisnisnya terbagi ke 3 divisi yaitu
  • Divisi Consumer Product & Cosmetics (CPC) yang memproduksi S.O.S , Marina , My Baby dll.
  • Divisi Farmasi dengan produk obat resep dan obat over the counter/OTC seperti Bodrex, Oskadon, hemaviton dll.
  • Divisi Distribusi untuk penjualan produk-produk farmasi yang berada dalam naungan grup Tempo baik produk internal maupun eksternal perusahaan.
Problem utama dari perusahaan seperti TSPC adalah naiknya harga bahan baku, depresiasi Rupiah dan adanya kompetisi yang sangat ketat. Bagaimana tidak, untuk divisi farmasi Tempo Scan harus berhadapan dengan kompetitor seperti Kalbe Farma (KLBF) dan Kimia Farma (KAEF) sedangkan divisi CPC harus berhadapan dengan Unilever (UNVR). Jadi meskipun harga bahan baku naik dan Rupiah yang melemah, TSPC tidak bisa serta merta menaikkan harga produk mereka sehingga berimbas pada  menipisnya margin keuntungan. Ketatnya persaingan pada industri produk konsumen juga mengakibatkan beban belanja iklan yang pastinya akan bertambah.
Chart US dollar terhadap Rupiah [sumber:www.tradingview.com]

 

Dari Chart diatas terlihat kurs rupiah terhadap US dollar sejak tahun 2013 sudah naik dari 11200 ke kisaran 14230 sekarang. Dan kebetulan pula sejak 2013 EPS dari TSPC tidak bisa bertumbuh lagi. Nah..untuk perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor ,karena sekitar 90% bahan baku obat adalah impor, maka depresiasi kurs mata uang rupiah terhadap US dollar ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan perusahaan, dan hal ini adalah wajar terjadi.

Berbagai usaha memang sudah dilakukan oleh perusahaan untuk meningkatkan pertumbuhan seperti diversifikasi produk dan merebranding  produk lama mereka dengan ide yang lebih fresh. Langkah perusahaan dengan pembentukan divisi Kosmetik, Produk & kesehatan konsumen (Cosmetic, Consumer product & Health Care/CCHC) dengan memindahkan produk kesehatan dari divisi farmasi ke divisi CPC dan menjadi divisi CCHC diharapkan mensinergikan dan memfokuskan pengembangan ekuitas merek produk milik TSPC.

Kesempatan besar pada tahun-tahun kedepan adalah memasukkan produk farmasi perusahaan ke dalam e-catalog obat-obatan BPJS. Ceruk pasarnya sangat besar mengingat animo masyarakat Indonesia menjadi peserta BPJS sangat besar. Sebelum ada BPJS, masyarakat yang sakit masih membeli obat-obatan warung/OTC namun belakangan karena mudahnya akses terhadap layanan kesehatan melalui BPJS maka pasar OTC agak terhambat dan masyarakat beralih ke obat resep dokter yang gratis lewat BPJS. Usaha ini pun sudah mulai terlihat dilakukan oleh perusahaan namun belum memberikan pertumbuhan terhadap keuntungan. Kita tunggu saja hasil dari semua langkah-langkah yang dilakukan oleh manajemen untuk meningkatkan revenue perusahaan.

Pemilik TSPC aktif Buyback saham perusahaan di bursa
Berdasarkan laporan tahunan PT. Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) tahun 2018 maka struktur kepemilikan saham perusahaan adalah sebagai berikut:
  • PT. Bogamulia Nagadi : 79.91%
  • CGML PB Client Account Collateral : 5.33%
  • Masyarakat kurang dari 5 persen : 14.76%
Seperti kita ketahui pemilik dari Bogamulia Nagadi adalah keluarga Ibu Kartini Muljadi, dimana saat ini perusahaan  dipimpin oleh putranya yaitu bapak Handojo Selamet Muljadi. Seperti kita ketahui keluarga Muljadi sangat-sangat berpengalaman dalam mengelola bisnis farmasi sejak tahun 1953.
Aktifitas Bogamulia Nagadi [sumber:stockbit]

Data yang tercatat di www.stockbit.com seperti gambar diatas, PT. Bogamulia Nagadi yang merupakan pengendali/pemilik mayoritas Tempo Scan dua tahun terakhir ini sangat aktif membeli kembali saham TSPC di bursa. Pada tanggal 30 Juli 2019 tercatat Bogamulia Nagadi kepemilikannya sudah 80.26%. Karena kepemilikan investor retail yang kecil dan owner terlihat ingin membeli kembali saham publik maka mark-up dan mark-down harga tidak sepenuhnya sesuai teori kondisi pasar yang efisien. Karena kita tidak tahu tujuan buyback itu apa, tetapi sebagai investor retail asalkan menyesuaikan dengan likuiditas harian kita bisa masuk dan keluar kapan saja menumpang apa yang dilakukan oleh owner nya. Yang jelas owner juga punya kepentingan dengan harga saham mereka dan mereka juga ingin untung seperti kita yang retail juga….hehehehe.

Weekly Chart TSPC periode 3 tahun [sumber:ipotnews]

 

Dari price chart TSPC diatas terlihat adanya kenaikan volume yang signifikan pada Januari 2019 yang membuat harga TSPC rebound. Anda tahukan itu perbuatan siapa??? Ya..yang saya bahas diatas yang nambah kepemilikan sampai 80.26 persen tadi. Well tampaknya ada yang tidak rela jika harga saham TSPC menjadi semakin jatuh.

Price Multiple Model dengan rasio data history PBV selama 10 tahun
Berapakah sebenarnya harga yang wajar (fair value) dari TSPC menurut pendekatan PBV sepuluh tahun? PBV rata-rata sepuluh tahun adalah 2.78 dan PBV sekarang adalah 1.45 pada harga sekarang yaitu 1705 dengan nilai buku per saham (Book Value per share/BVPS) sebesar 1175. Harga wajar dari pendekatan ini adalah 2.78 x 1175 = 3266 rupiah. Dengan Margin of Safety (MoS) (3266-1705)/1705=91.55%.
PBV TSPC selama 10 tahun[sumber: stockbit]
MoS nya cukup tinggi bukan? namun jangan lupa untuk sektor defensif menurut Benjamin Graham maksimum PBV adalah 1.5. Jika divaluasi sesuai PBV 1.5 maka harga wajar TSPC adalah 1.5 x 1175=1765 rupiah saja.

Price Multiple Model dengan rasio data history PER selama 10 tahun
Jika dilakukan pendekatan dengan histori PER dengan PER rata-rata 10 tahun yaitu 17.7 dan EPS 113 maka harga wajar adalah 17.7 x 113= 2000 rupiah dengan MoS (2000-1705)/1705= 17.3%.

PER TSPC selama 10 tahun [sumber: stockbit]
Kali ini saya tidak memvaluasi TSPC dengan metode DCF ataupun PBV dan PER sektoral mengingat growth revenue dan growth EPS yang masih stagnan bahkan hampir negatif. Ya..yang menurut saya masuk akal dalam waktu dekat maksimal harga TSPC hanya naik sampai di 2000 saja. Kalau mantul turun ya kemungkinannya cukup besar, jadi untuk trader ketatkan stoplossnya ya…..untuk long term investor it’s an opportunity…betul tidak?
Berapakah sebenarnya harga yang saya inginkan untuk beli?
Ada salah satu pendekatan yang baru saya terapkan dalam valuasi saham, yaitu pendekatan berdasarkan ekuitas dari perusahaan. TSPC berdasarkan laporan keuangan tahun 2018 memiliki ekuitas sebesar 5432.85 Milyar atau kalau dibagi jumlah saham beredar 4.5 Milyar lembar, berarti ekuitas per saham adalah 1207 rupiah.
Keuntungan per saham pada tahun 2018 adalah 113.78 rupiah dengan ROE 9.4% . Deviden yang dibagikan adalah 40 rupiah per lembar sehingga saldo laba ditahan adalah sebesar  (113.78-40)=73.78 rupiah per lembar saham. Maka Ekuitas tahun 2019 semestinya adalah 1207+73.78 = 1280.78 rupiah per lembar saham. Menurut saya nilai 1280.78 rupiah inilah yang sebenarnya menggambarkan harga per lembar dari saham TSPC itu sendiri di tahun 2019. Jika TSPC sekarang dihargai 1705 maka pasar menilainya 1.33 kali nilai ekuitasnya sedikit overvalue. Kok repot amat ngitung kan tinggal lihat PBV nya,… kan sudah ada yaitu 1.45. Justru itu… Membuat valuasi itu tidak ada metode bakunya, semua investor bisa memperkirakan atau melakukan pendekatan seberapa harga yang menurut mereka wajar sesuai pendekatannya sendiri-sendiri. Yang jelas bagi saya valuasi dibawah 1.5 kali adalah masih termasuk murah.
Saya ingin mengandaikan jika harga TSPC memang akan turun lagi di tahun 2019 maka harga TSPC minimum adalah 1280 yang mencerminkan nilai ekuitas sebenarnya dari satu lembar saham TSPC.
Disclaimer ON ya…..penulis sudah masuk sejak 2018 diharga 1400. Do your own Research….!!
Happy investing!
Share this post

Published by

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Alert: Content is protected !!