You can enable/disable right clicking from Theme Options and customize this message too.

Ketika Menjadi Karyawan

Beberapa waktu lalu saya berbincang santai dengan teman lama yang memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempatnya bekerja dan berwiraswasta. Memang menarik perbincangannya, cerita bagaimana dia memulai binisnya dari nol banting tulang berjuang sana sini dan akhirnya pada titik yang cukup stabil. Beda saat menjadi karyawan adalah tidak adanya recurring income yang tetap. Penghasilan adalah tergantung usaha sendiri. Kalau usahanya maksimal hasilnya juga akan maksimal, dan itu dinikmati sendiri, bukan seperti karyawan, kita usaha maksimal yang menikmati adalah pemilik perusahaan. Menurut sahabat tersebut menjadi karyawan adalah pengalamannya yang sangat bermanfaat, dimana dia belajar mengenai bidang yang digeluti, membangun koneksi atau relasi bisnis dan mengetahui celah yang bisa dipakai sebagai peluang usaha. Pesannya jangan kelamaan jadi karyawan nanti kalau merasa menjadi jajahan seumur hidup, atau keenakan karena terbuai dengan fasilitas dan jabatan seperti rekan-rekannya yang bekerja di perusahaan milik Negara, yang ujung-ujungnya setelah masuk masa purna tugas terkena post-power syndrome.

Saya teringat dahulu saat masuk di perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Kalau saya flashback kembali saat itu agak kurang dinalar juga. Kontrak masuk adalah sebagai siswa magang atau training selama 2 tahun dan tidak ada kepastian akan direkrut sebagai karyawan. Saat itu yang menjadi motivasi saya adalah saya ingin belajar bidang usaha perusahaan ini. Suatu bidang yang sudah saya pelajari selama 5 tahun lebih saat menjadi mahasiswa, suatu bidang yang jualan perusahaannya akan laku sepanjang masa. Dalam benak saya untuk batu loncatan dalam bidang ini tidak apa-apalah. Saat itu saya memandang bidang usaha dari perusahaannya dan bukan perusahaannya. Alih alih menjadi batu loncatan eh, malah keterusan disini.

Pada artikel ini saya ingin membahas sedikit hal yang penting yang perlu bagi karyawan yang baik, artinya bermanfaat bagi diri-sendiri dan perusahaan.

Membangun Mental Disiplin

Disiplin adalah kelemahan terberat dari orang Indonesia. Selalu ada alasan dan pembenaran untuk tidak taat pada aturan. Dengan aturan saja banyak yang tidak taat apalagi dengan komitmen atau janji. Untuk bersaing dengan orang asing tidak hanya diperlukan kuat otot dan pintar otaknya saja  namun memenuhi komitmen atau janji yang kita tetapkan sendiri adalah salah satu perilaku yang membuat kita dihargai oleh orang lain. Pertanyaannya adalah sifat disiplin seperti apa yang dibutuhkan. Apakah disiplin karena dipaksakan ataukah disiplin yang berasal dari kesadaran sendiri.

Saya pernah bekerja di pabrik elektronika asal Korea. Disiplin terhadap waktu adalah hal yang sangat penting. Masuk kerja harus tepat waktu, jika telat maka kita dapat pengurangan poin nilai atau potongan gaji dan jika berulang maka mendapatkan surat peringatan. Disiplin dalam menggunakan waktu istirahat, bila jatah cuma 10 menit ya harus tepat sepuluh menit. Jika lebih pasti kita mendapat teguran lisan dari pak Bos.  Memang bekerja di perusahaan asing ini ada yang bilang seperti dalam masa penjajahan lah. Namun saya bisa maklum juga karena apa yang diterapkan ke kita, para karyawan lokal adalah budaya dan tradisi asli mereka di negara asal. Apakah disiplin model Korea seperti ini yang dibutuhkan?

Saya pernah bekerjasama dengan beberapa engineer asal Jepang. Sangat disiplin dengan waktu, prosedur dan atasan. Bila melakukan kesalahan mereka pun akan mendapat hukuman , peringatan bahkan makian dari sang Bos. Saya salut akan sikap “nrimonya” menerima hukuman atau makian tersebut, dalam hati saya kalau orang Indonesia diperlakukan seperti itu sudah pasti akan terjadi pertumpahan darah.

Saat proyek beberapa waktu lalu, kontraktor Jepang yang mengerjakan proyek banyak menggunakan teknisi asal Filipina.  Saya bertanya-tanya kenapa mereka lebih suka memakai jasa orang Filipina sebagai teknisi. Jawaban yang saya dapat  karena mindset orang Jepang tersebut menganggap orang Filipina lebih professional dan kompeten dari orang lokal, dan menurut sahabat Jepang tadi, pekerja lokal Indonesia banyak yang “Alibaba” yang artinya nakal. Inilah mental yang tidak mereka sukai dari pekerja Indonesia. Meski menurut pendapat saya tidak semua pekerja lokal seperti itu, yang bagus sangat banyak, mungkin mereka saja yang salah rekrut ….hahahaha.

Menurut saya yang perlu dipupuk adalah kesadaran. Disiplin itu kita butuhkan untuk bersaing dan bertahan menghadapi tantangan kedepan. Untuk membuat orang lain percaya dengan kita maka kita harus disiplin dengan komitmen dan aturan yang kita sepakati. Kalau kita melanggarnya sekali saja maka kepercayaan itu bisa runtuh seketika atau kita dianggap remeh oleh orang lain. Sadarlah bahwa kita membutuhkan diri kita untuk disiplin dan bukan dipaksa untuk disiplin.

Belajar terus menerus

Pesan kepada yang masih menjadi karyawan, agar selalu belajar dan belajar. Karena anda tidak bersaing dengan teman dalam satu perusahaan tapi bersaing dengan tenaga asing dari luar. Perbanyak sertifikasi yang diakui nasional atau internasional karena yang menandakan anda kompeten ya sertifikat tersebut. Sebagai contoh, untuk tersertifikasi dari suatu badan misalkan SMRP (society for Maintenance and Reliability Professional) atau untuk local IATKI/HAKIT (sertifikasi bidang tenaga listrik) harus ada syarat seperti pengalaman kerja dan berapa jam training, seminar atau pendidikan yang diikuti oleh orang tersebut. Begitu pula saat perpanjangan sertifikat, semua badan sertifikasi pasti memeriksa apakah orang tersebut ada proses pembelajaran untuk mempertahankan kompetensinya.

Terlepas dari itu, proses pembelajaran yang terus menerus sangat bermanfaat bagi orang tersebut dan perusahaan. Orang yang terus belajar memiliki kemampuan analisis serta problem solving yang lebih baik dari yang tidak belajar. Terkadang hal yang sifatnya kecil bisa menjadi masalah yang besar karena orang tersebut tidak mengetahui prinsip dasar dari hal yang mereka kerjakan, oleh karena itu belajarlah terus.

Kompetensi itu melekat ke pribadi

Keahlian dan kompetensi apapun yang kita dapatkan akan melekat pada diri pribadi, jika niat ingin mengembangkan kompetensi maka belajarlah terus jangan menunggu mendapat jatah atau perintah untuk training baru kita belajar. Kita sadari atau tidak status karyawan terkadang membuat seseorang terlena, lupa bahwa zone comfort yang didapat sekarang akan mengalami suatu akhir.

Saya senang mendengar para senior yang sudah pensiun ketika sudah purna bakti masih dicari orang karena kompetensi khusus yang mereka miliki. Meski mereka tidak fulltime bekerja namun sangat bermanfaat untuk sekedar mengisi waktu luang dan tentu saja tambahan penghasilan. Ada yang menjadi trainer, pengajar ataupun assessor, pekerjaan yang sesuai passion dan berhubungan dengan kompetensi mereka.

Membangun professional network
Saat ini membangun jaringan professional itu sangat mudah. Selain kita mendapat relasi dari hubungan intra perusahaan, antar perusahaan, bergabung dalam komunitas professional ataupun komunitas akademik dan bisa juga sekarang lewat media sosial online untuk professional. Ya …salah satunya adalah linkedin. Banyak manfaat yang dirasakan lewat media ini. Kita bisa mengupload Curriculum Vitae kita, melihat CV orang lain, bahkan melihat lowongan pekerjaan. Banyak tawaran yang pernah saya terima dari head hunter yang memakai linkedin. Kalau ingin mendapatkan rekan supplier atau customer untuk bisnis anda bisa juga lewat media ini.
Sosmed untuk para professional
Saya sedikit memberi tanda kutip , suatu pesan bagi para karyawan yang bermalas malasan:Ada prinsip yang saya pegang sampai sekarang. Bila perusahaan ini hari ini bangkrut, atau hari ini saya dipecat maka saya besok masih bisa makan dari keahlian saya. Intinya saya masih bekerja atau tidak di suatu perusahaan, keahlian saya itu masih ada yang membutuhkan.
Bila perusahaan ini hari ini bangkrut, atau hari ini anda tiba-tiba dipecat, jika besok anda masih bisa makan dengan keahlian yang anda pelajari di perusahaan ini maka anda layak dapat bintang dan dua jempol keatas dari saya, jika besok anda masih menganggur dan menengadahkan tangan pada orang tua, saudara atau teman maka anda telah menyiakan waktu anda di perusahaan ini. Kalau dalam bahasa kasar saya “hanya numpang hidup”….hehehehe. Dua jempol kebawah untuk anda.
Share this post

Published by

One thought on Ketika Menjadi Karyawan

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Alert: Content is protected !!