Bli Tudik : Uncle Sam Part 1 : Los Angeles

06 March 2017

Uncle Sam Part 1 : Los Angeles

Mungkin karena lobi dari GE ke US embassy, setelah pengajuan visa kami ditolak sebulan sebelumnya, akhirnya reapply visa diterima dan jadwal keberangkat kami ke US pun ditetapkan seminggu setelah interview. Penerbangan kami menuju Los Angeles (LA) menggunakan maskapai All Nippon Airways (ANA) via Narita (Tokyo). Jakarta-Narita ditempuh selama 7 jam perjalanan dan untungnya kursi sebelah saya kosong, lumayan lah buat miringin kaki dan badan. Temperatur udara di Tokyo saat itu sekitar 10 derajat Celcius dan begitu turun dari pesawat hawa dingin pun langsung menusuk badan. Alhasil kamipun segera bergegas menuju ke dalam terminal dan menunggu pesawat yang akan membawa kami ke LA satu jam kemudian. Kali ini pesawatnya benar benar penuh, dan perjalanan selama 9 jam dari Tokyo ke LA benar-benar membuat pantat saya panas dan pegal.

Los Angeles International Airport (LAX)

Los Angeles International Airport (LAX)
Setibanya di bandara LAX kamipun menuju terminal kedatangan. Temperatur di LA ternyata lebih tinggi dibanding di Narita sekitar 18-24 derajat Celcius, cuaca yang cukup bersahabat dengan badan saya. Kamipun menuju imigrasi dan menuju counter otomatis dimana scan passport/visa finger print dan foto secara mandiri tanpa ada petugasnya. Setelah menjawab beberapa pertanyaan akhirnya pass receipt tercetak tanpa ada tanda silang. Teman saya yang mendapat tanda silang harus menuju counter yang ada petugasnya. Keluar dari counter kami bertemu petugas imigrasi USA, kamipun ditanya satu persatu tujuan kami ke US, berapa lama dan tinggal dimana. Setelah melewati petugas yang galak tapi ramah tadi, kami turun menuju pengambilan bagasi. 
Los Angeles International Airport (LAX) menurut saya sangat bagus, terminal kedatangan Tom Bradley merupakan terminal kedatangan internasional yang cukup luas, nyaman, layanan bagasinya sangat cepat (dibandingkan cengkareng). Sayapun sempat bertanya dalam hati Tom Bradley ini siapa ya...dari wiki saya akhirnya tahu kalau Tom Bradley adalah walikota LA selama 20 tahun (1973-1993) yang mengusahakan perluasan bandara LA dan sekaligus terminalnya dinamakan dengan namanya.

Westin Airport Hotel
Setelah foto-foto sebentar didepan terminal kami menunggu shuttle bus menuju hotel Westin. Kebanyakan hotel di LA memiliki shuttle bus gratis dari bandara menuju hotel. Menurut saya ini sangat bagus dan mempermudah para wisatawan. Masuk ke bus suasana latin pun langsung terasa dari lagu yang diputar, ya... lagunya dalam bahasa spanyol. Tak lama kemudian naiklah crew pesawat yg saya tebak berasal dari mexico karena logat spanyol terdengar saat berbincang. Dalam hati, saya mengambil kesimpulan kalau LA ini aroma hispanic nya sangat terasa....kalau menurut wiki 40 persen lebih penduduk LA adalah keturunan Hispanic/latino....hmmm.
Westin hotel menurut saya cukup bagus, sayangnya untuk fasilitas breakfast dan laundry saya tidak sreg. Sarapan hanya roti dan laundrynya mahal sekali. Akhirnya untuk menghemat saya pun mencuci daleman dalam westafel dan dikeringkan menggunakan hair dryer..(mental irit).

Hollywood
Setelah beristirahat sejenak kamipun keluar hotel untuk jalan jalan. Kali ini Pak Fadil, fasilitator kami, menyewa mobil caravan dan mengantar kami untuk jalan jalan. Ternyata SIM Indonesia yg biasa (bukan internasional) bisa dipakai untuk sewa mobil dan berkendara di Amerika. Memang sih tergantung kebijakan negara bagian masing-masing dan menurut Pak Fadil asal SIM ada terjemahan bahasa inggrisnya driving license bisa dipakai. Kamipun menuju Hollywood. Jalan jalan di Walk of fame, makan malam, foto foto dan cari oleh oleh.

Hollywood

Bruce Lee

Hollywood

Madame Tussauds


Sepanjang jalan walk of fame  banyak sekali seniman jalanan yang menawarkan jasa, ada cosplay superhero yang menawarkan jasa foto bersama ataupun pengamen jalanan dengan saxophone nya dan ada juga kampanye untuk para tuna wisma. Saya merasa tidak terlalu nyaman berjalan disini, banyak yang nawarin dagangan sambal ngoceh gak jelas, ataupun membujuk setengah maksa untuk masuk ke tokonya. Teman saya mas Kuncoro tertarik untuk foto dengan superhero, alhasil sudah bayar 5 USD fotonya goyang/buram lagi...hehehehe. 


Kota Los Angeles menurut saya cukup tertata rapi dan bersih, sepanjang jalan saya melihat rumah-rumah dengan tipe cluster, tanpa pagar depan dan dengan taman yang cantik seperti dalam film-film. Jika punya rumah seperti ini berarti orang tersebut sudah dinyatakan sebagai orang kaya, apalagi yang rumahnya di daerah sepanjang Melrose Boulevard...wow.



Universal Studios
Hari kedua kami menuju universal studios, ikut paket studio tour dan mencoba beberapa wahana yang ada disana. Sayangnya ada pagar pembatas berwarna coklat sehingga pengunjung tidak bisa berfoto lebih dekat dengan globe yang menjadi ikon universal studios.
Universal Studios
Studio tour menurut saya sangat menarik, kita dibawa menuju set/studio tempat dimana sebuah film diproduksi, pengunjungpun dibawa untuk merasakan suasana dalam film tersebut dari bangunan, property dan ada beberapa dilengkapi dengan animasi 3D, begitu masuk studio King Kong 360 3D kami pun disembur ludahnya....hekss.


Saya hanya mencoba dua wahana saja yaitu transformer 3D dan Mummy the Ride, Perut saya kalau dikocok-kocok tambah naik asam lambungnya. Bayangkan, naik roller coaster dalam suasana gelap lalu ada mummy yang menyerang,..waduh untung jantung saya masih kuat.
Pemandangan dari satu sudut universal studio cukup menarik, kita bisa melihat kota Los Angeles dan bukit-bukit disekitarnya dari ketinggian.


View LA dari Universal Studios


Komplek toko Universal Studios
Untuk membeli oleh oleh, banyak sekali toko-toko yang menjual souvenir di sepanjang jalan keluar Universal studio, dan sebagian besar bertemakan film-film yang diproduksi disini. Sayapun kesengsem dengan tas minuman anak-anak Spongebob yang lucu. Akhirnya saya beli dua untuk kedua ponakan saya yang cantik-cantik.

Griffith Observatory
Agak sore kami menuju Griffith Observatory dan jalan jalan disana melihat LA dari atas bukit. Griffith observatory merupakan sebuah planetarium, dimana pengunjung dapat melihat foto-foto bintang, planet ataupun sejarah dari teleskop. Yang unik adalah terdapat tesla coil dimana saat pertunjukan akan disimulasikan discharge tegangan tinggi, penonton yang jarang melihat spark tegangan tinggi akan terkagum-kagum. Kalau saya.....berasa di laboratorium tegangan tinggi di kampus...hehehe.

Griffith Observatory

Untuk mencapai Griffith Observatory ditempuh dengan mobil dengan medan berupa jalan yang menanjak dan berliku-liku. Karena pengunjungnya sangat ramai maka menemukan tempat parkir yang dekat itu sangat sulit. Jadi siapkan tenaga untuk berjalan kaki naik turun bukit.....

Hollywood sign terlihat kecil di atas bukit
Dari taman di depan Griffith Observatory kita juga dapat melihat kota Los Angeles dan bukit Hollywood yang ada Hollywood sign nya. Sayang sekali tulisan hollywoodnya terlihat kecil di seberang.

2 comments: