Bli Tudik : Memotret Dunia Makro ala Blitudik

11 August 2016

Memotret Dunia Makro ala Blitudik

Satu hal yang membuat saya tidak bosan untuk sekedar berkeliling di halaman rumah adalah banyak hal yang bisa saya explore. Kalau bukan pengetahuan tentang apotik hidup yang saya dapat dari Bapak maka berkeliling sambil memotret adalah kegiatan yang rutin saya lakukan saat pulang kampung ke rumah yang di Bali. Pada liburan kali ini saya membawa peralatan fotografi yang sebenarnya jarang saya bawa yaitu eksternal flash dan lensa makro. Jadilah saya keliling halaman sambil menenteng kamera kesayangan yang terpasangi eksternal flash dan lensa makro canon EF 100 mm f2.8 macro. Selain itu untuk memotret makro/mikro biasanya saya menggunakan lensa canon 50 mm f1.8 ditambah dengan Raynox DCR 250. Kalau membandingkan hasilnya sih menurut saya mirip, kekurangannya dengan lensa 50mm tadi ,.. memotretnya harus lebih dekat dengan objek foto.

Foto 1. Lebah hijau, diambil dengan Canon EOS 700D + EF 100 mm f2.8 macro + Flash Nissin Di 866 + Lambency

Foto 2. Belalang, diambil dengan Canon EOS 700D + EF 100 mm f2.8 macro +internal flash

Sebenarnya dalam hal makro-makro an saya tidak terlalu terampil dan masih tahap belajar, Hal yang paling sulit adalah focussing, banyak foto yang direview di kamera terlihat tajam namun ketika dibuka di laptop kelihatan kalau misfocus. Karena ada teman yang kemaren nanya cara memotret makro itu seperti apa, maka saya akan membahasnya sepanjang yang saya ketahui saja.

Pemilihan Lensa
Hal yang membedakan lensa makro dengan lensa lainnya adalah lensa makro mempunyai rasio pembesaran 1:1 artinya objek yang tertangkap sensor ukurannya sama dengan ukuran aslinya. Sebenarnya lensa normal yang lain mampu menghasilkan rasio tersebut, namun pada jarak yang sangat dekat dengan objek saking dekatnya lensa tidak akan dapat fokus pada jarak tersebut. Untuk mengakalinya banyak fotografer makro menggunakan alat tambahan yang bisa berupa filter pembesar, macro extension tube, reverse ring lens, atau filter Raynox. Sepanjang saya coba-coba dengan berbagai tools tersebut, yang paling terasa nyaman adalah menggunakan lensa makro.

Lebah hijau, diambil dengan canon EOS700D+EF 100mm f2.8 macro+Nissin Di866+lambency

Manual override focus 
Focussing adalah yang paling sulit saya lakukan. Karena jarak yang sangat dekat dengan objek foto maka fokus lebih bijak jika dilakukan secara manual biar momennya tidak hilang. Pengalaman saya ketika sudah enak-enak auto focus tiba-tiba tangan saya sedikit bergerak dan harus mengulang fokus. Saat mengulang fokus ini terkadang meleset ke jarak yang lebih jauh dari target saya, dan sayapun hilang momen, kehilangan momen pun pernah saya alami ketika saya tiba -tiba melihat seekor lalat yang hinggap di dahan pohon dan ketika fokus dengan mode auto memakan waktu yang lama, karena dahan pohon sangat kecil dan fokus yang saya dapat adalah objek dibelakang dahan pohon tersebut, dan sayapun kehilangan momen karena lalatnya keburu pergi. Biasanya ketika membidik saya membantu dengan fokus secara manual meskipun pada mode autofokus istilahnya override secara manual (tergantung lensa ya...).

Sejenis nematocera , diambil dengan canon EOS700D+EF 100mm f2.8 macro+Nissin Di866+lambency

Mode Manual
Mode ini adalah mode favorit saya kalau memotret makro, karena kalau memotret makro saya biasanya menggunakan flash eksternal dengan mode TTL  dengan setting kamera speed dan aperture yang fix yaitu pada speed 1/125s dan f 16 dan untuk ISO saya posisikan auto (range 100-400). Sebenarnya pemilihan mode tergantung masing-masing fotografer nyamannya pada mode yang mana, bahkan dengan mode scene macro pun juga bisa.

Sejenis kumbang orange, diambil dengan canon EOS700D+EF 100mm f2.8 macro+Nissin Di866+lambency

Depth of field (DOF)
Karena jarak yang dekat dengan objek maka DOF yang didapat semakin tipis, maka setup bukaan diafragma haruslah semakin kecil / f nya semakin besar . Saya sangat nyaman dengan f 11 keatas, dan paling sering di f16.

Tawon hitam, diambil dengan canon EOS700D+EF 100mm f2.8 macro+Nissin Di866+lambency

Pencahayaan
Ketika menggunakan bukaan diafragma kecil maka cahaya yang dibutuhkan semakin banyak supaya foto tidak underexpose. Penggunaan flash menjadi sangat penting terutama jika cahaya matahari/natural tidak terlalu mendukung. Banyak di pasaran yang menawarkan flash untuk makro. Ada yang berupa ring flash, atau flash kembar (twin lite). Keuntungannya adalah kita bisa mengatur rasio intensitas cahaya highlight dan shadow. Namun karena harganya yang cukup mahal jadi saya cukup pakai flash eksternal biasa dengan diffuser saja. Kalau disuruh memotret mahluk yang lebih kecil dari lebah madu mungkin saya akan membutuhkan macro flash, karena semburan flash eksternal tertutup oleh moncong lensa dan tidak mengenai objek foto. 
Penggunaa Diffuser bagi saya sangat penting. Jika diperhatikan secara seksama maka pada foto 2 (belalang) pencahayaan terasa terlalu kuat karena saya menggunakan flash internal saja begitu pula pada foto lalat dibawah.

Cahaya keras dari flash internal

Peralatan DIY
Banyak sekali kreatifitas para pemotret makro untuk membuat sistem pencahayaannya sendiri dan terkadang terlihat aneh, contoh ada yang menggunakan kotak odol yang dibuat seperti corong untuk mengarahkan cahaya dengan lembut ke arah objek foto, istilahnya kreatifitas ini DIY (do it yourself). Jika ada yang menyatakan menggunakan DIY light modifier maka itu adalah senjata rahasia dari si fotografer tersebut untuk memperoleh pencahayaan yang sesuai keinginannya.

Lebah hijau , diambil dengan canon EOS700D+EF 100mm f2.8 macro+Nissin Di866+lambency

Jangan Mengganggu Objek
Memotret makro secara alami memang gampang-gampang susah, apalagi jika yang dipotret pergerakannya sangat aktif seperti lebah dan kupu-kupu. Terkadang timbul niat untuk mempermudah pemotretan dengan mencoba memindahkan, memegang binatang tersebut ke background yang kita inginkan. Suatu saat saya mencoba memindahkan seekor kupu-kupu yang tertidur di atas meja makan untuk saya letakkan diatas kelopak bunga mawar untuk mendapat komposisi yang saya inginkan, namun karena si kupu-kupu bukan seorang model yang mengerti kalau ingin difoto maka berontaklah si kupu-kupu tadi dan terbang entah kemana. Bagaimana jika objeknya adalah lebah? bisa-bisa benjol saya terkena sengatannya. Jadi jangan sekali-kali mengganggu kehidupan mereka saat kita memotret.

Sejenis nematocera, diambil dengan canon EOS700D+EF 100mm f2.8 macro+Nissin Di866+lambency

Post Processing
Tidak banyak yang saya lakukan saat post processing. Tentu saja konversi file RAW ke JPG dan sedikit adjustment pada contrast. Itu saja kok. Memang jika ingin mendapatkan foto tajam keseluruhan tubuh serangga maka kita perlu menggunakan teknik focus stacking, dengan beberapa gambar dari objek yang sama dengan titik fokus berbeda dan digabungkan menjadi satu dengan software. Mungkin lain waktu akan saya coba.


Tawon hitam, diambil dengan canon EOS700D+EF 100mm f2.8 macro+Nissin Di866+lambency

Menjaga keselamatan
Hal ini adalah hal yang sangat penting jika memotret makro. Saking asik membidik jangan lupa jika objek foto dapat mengancam keselamatan atau kesehatan kita. Kalau tidak digigit atau tersengat, minimal kita dapat terkejut dan panik, Jika apes bisa jatuh terperosok juga. (yang ini pengalaman pribadi..hehe).

Tawon hitam, diambil dengan canon EOS700D+EF 100mm f2.8 macro+Nissin Di866+lambency
Mungkin itu saja yang bisa saya bagikan pada artikel ini berdasarkan percobaan dan pengalaman saya dalam memotret makro secara teknikal. Di luar itu, kreatifitas dan konsep dari fotografer lah yang sangat berperan penting. Jika ada hal yang ingin didiskusikan atau kritik dan saran silahkan dikomentari.

Selamat ber makro ria ya....!





No comments:

Post a Comment