Bli Tudik : Topeng Sidakarya : Tarian Sakral "Penyida karya"

10 January 2016

Topeng Sidakarya : Tarian Sakral "Penyida karya"

Yadnya bagi masyarakat Hindu Bali adalah pengorbanan suci yang tulus dan ikhlas. Ada Lima jenis yadnya yang menjadi kewajiban bagi umat hindu yaitu Dewa yadnya, Manusa yadnya, Rsi yadnya, Butha yadnya dan Pitra yadnya. Memahami yadnya bagi orang non Hindu dan non Bali tentu agak sulit, terlihat rumit dan banyak memakan biaya. Tetapi bagi orang Hindu Bali, Yadnya tersebut adalah perihal pokok dan kewajiban yang utama dalam mengarungi kehidupan sebagai manusia. Yadnya sendiri adalah penjabaran dari Tri kerangka agama Hindu yaitu Tatwa, Filsafat dan upakara (upacara). Yang mudah terlihat bagi orang awam adalah upacara saja, namun dibalik suatu upacara yang diadakan di Bali terdapat dasar kepercayaan (Tattwa) dan filosofi (filsafat) yang mendasari suatu upacara itu diadakan. 


Topeng tua, salah satu karakter dalam pertunjukan topeng sidakarya

Topeng Sidakarya sendiri merupakan salah satu tarian yang sifatnya sakral yang digunakan dalam rangkaian upacara yadnya. Sida artinya jadi/bisa/tercapai dan karya artinya kerja, dalam hal ini upacara yadnya. Sehingga Sidakarya dapat diartikan upacara dapat terjadi/selesai . Tarian topeng ini dipentaskan dalam upacara yadnya sebagai simbol bahwa tujuan yang diinginkan oleh orang yang melakukan  upacara yadnya tersebut dapat tercapai.
  
Karakter tambahan yang dimainkan dalam pembukaan pertunjukan topeng Sidakarya disesuaikan dengan cerita  yang dimainkan
Topeng Sidakarya dapat ditarikan oleh satu atau lebih penari yang memainkan beberapa lakon dan terakhir satu orang menarikan topeng Sidakarya. Sebagai tari pembuka pementasan biasanya penari memainkan lakon suatu cerita. Bisa berupa ceramah agama (Dharmawacana), cerita kehidupan sehari-hari yang diisi dengan lelucon ringan yang mengundang penonton untuk tertawa.

Penari memainkan karakter orang tua
Pertunjukan pembukaan topeng Sidakarya tidak jauh berbeda dengan pertunjukan tari topeng lainnya seperti kita lihat pada kesenian Bondres. Dimana karakter yang dimainkan adalah kondisi jaman kerajaan Bali dahulu. Pakemnya pun sama, cerita yang dimainkanpun juga sama yang membedakan adalah tari topeng Sidakarya sendiri sebagai tari penutup.

Tokoh utama yang dimainkan dalam topeng Sidakarya adalah Dalem Waturenggong, Dang Hyang Nirartha dan Dalem Sidakarya

Karakter ini sepertinya menggambarkan orang dari luar Bali
Pada bagian penutup, seorang penari akan menarikan topeng Sidakarya. Pada bagian inilah suasana sakralnya sangat terasa. Yang membuat topeng Sidakarya berbeda dengan topeng yang lain adalah tari topeng Sidakarya menggunakan kain putih yang dirajah yang sering digunakan untuk menutupi muka.
Topeng Sidakarya

Topeng Sidakarya

Awalnya saya bertanya-tanya, kenapa yang menari topeng sidakarya sering menutup muka dengan kain putih tersebut. Akhirnya saya tahu kalau hal tersebut terkait dengan sejarah dari topeng sidakarya itu sendri.
Tari pembuka topeng Sidakarya
Menurut beberapa sumber, saat Dalem Waturenggong menyelengggarakan upacara yadnya Eka Dasa Rudra di Pura Besakih diundanglah semua pandita yang ada di Bali. Saat upacara berlangsung datanglah Pandita Keling dari jawa. Karena perjalanan yang jauh tampilan beliau terlihat sangat lusuh, kucel seperti pengemis dan tak seorangpun yang mengenali.
Penari memerankan karakter seorang dari luar bali
Akhirnya pandita Keling masuk dan beristirahat diatas pelinggih Surya Chandra. Dalem Waturenggong marah dan menyuruh prajuritnya mengusir orang tersebut. Sang Pandita pun pergi namun sebelum pergi beliau mengucap mantra kutukan semoga upacara yang diadakan oleh Dalem Waturenggong tidak berhasil (tan sida) dan terjadi kekeringan dan wabah di Bali. Sang pandita pun pergi ke daerah Badanda Negara (daerah sidakarya).
Dialog pembuka pertunjukan tari topeng Sidakarya
Karena terjadinya wabah dan antar pengayah terjadi pertengkaran, maka upacara  Eka Dasa Rudra urung untuk dilaksanakan. Setelah melakukan tapa, akhirnya Dalem Waturenggong mendapat petunjuk bahwa beliau melakukan kesalahan dengan mengusir pandita Keling. Maka diutuslah patih beliau untuk mencari sang pandita ke Badanda Negara. Akhirnya sang pandita datang ke Besakih dan melebur kutukannya sehingga wabah penyakit hilang. Sang pandita pun menjadi pandita pemuput upacara Eka Dasa Rudra dan diangkat menjadi saudara Dalem Waturenggong dengan gelar Dalem Sidakarya.

Seorang penari topeng membacakan doa, saat pertunjukan tari topeng Sidakarya 

Sebagai bentuk rasa senangnya karena upacara berhasil maka Dalem Waturenggong mewajibkan umat hindu untuk meminta tirta "Penyida karya" di pasraman Sidakarya agar upacaranya sidakarya (berhasil). Sebagai kenangan atas kejadian itu maka dibuatkanlah topeng yang menggambarkan ketiga tokoh yaitu Dalem Waturenggong, Dang Hyang Nirartha, dan Dalem Sidakarya. Dalem Sidakarya digambarkan sebagai orang yang berwajah jelek, giginya tongos. Karena itu penari topeng sidakarya sering menutupi wajah / giginya dengan kain putih.
Penari topeng sedang bersiap untuk pentas
Saya teringat waktu kecil dahulu, saat menonton pertunjukan tari topeng Sidakarya saya pernah diculik, digendong dan ditarikan oleh topeng Sidakarya. Saya tidak ingat apakah saya dulu menangis layaknya anak-anak yang takut melihat tari topeng. Yang dapat saya ingat, setelah selesai digendong saya diberikan upah oleh penari topengnya...hehehe. Mungkin hadiah  saya terkejut karena tiba-tiba digendong.
Kali ini saya menonton kembali pertunjukan topengnya dirumah, namun karena anak kecilnya tidak ada maka acara gendong-menggendongnya tidak ada.

1 comment: