Bli Tudik : Food Photography

20 January 2015

Food Photography

Saya dahulu sempat bertanya-tanya, apakah memotret makanan sama dengan memotret objek lain. Setelah beberapa kali ikut pemotretan makanan saya jadi tahu kalau apapun objeknya teknik memotret tetap sama. Pengalaman pertama saya memotret makanan adalah saat ikut workshop mas Rizki Trestianto di Bekasi Cyber Park. Saat itulah saya mendapat sedikit dasar dasar dalam fotografi makanan. Ada beberapa hal yang dapat saya rangkum pada pelatihan tersebut.

Fruit Pudding


1. Peralatan

Yang diperlukan dalam pemotretan makanan adalah: Kamera digital dengan lensa normal - semi tele yang memiliki bukaan diafragma besar dan jika memiliki lensa makro tentu akan lebih baik. Tentu saja pemilihan lensa tidak terlalu baku itu tergantung pada konsep dan mood yang ingin ditampilkan dalam foto. Saya biasa menggunakan lensa fix canon 50mm f1.8 karena lensa ini memiliki range cukup untuk memotret makanan dan bukaan lebar sehingga memudahkan jika kita ingin DOF yang tipis. Untuk background kita bisa digunakan table top dengan latar putih bening atau jika memotret di restoran nya langsung disetup di meja. Foto cakes dibawah menggunakan table top dan foto tumpeng langsung di atas meja makan.
Strawberry cakes, diatas table top dengan komposisi makanan lain dan dof tipis

2. Penataan makanan
Sebuah pemotretan yang profesional tugas menata makanan biasanya dikerjakan oleh seorang food stylish. Pekerjaan ini biasanya dikerjakan langsung oleh pencipta menu tersebut jika food stylish dirasa mahal, terkadang ada juga rekan fotografer memiliki keahlian sebagai food stylish. Apapun konsep yang diinginkan dari foto makanan tersebut harus didiskusikan dahulu dengan pemilik menu ataupun food stylish. Dalam foto makanan sangat diinginkan kesan makanan yang merangsang orang untuk mencicipinya. Lelehan saos pada foto spaghetti dibawah akan menimbulkan kesan lezat dan merangsang air liur orang yang melihat foto. Air yang menempel di gelas pada pudding buah akan menambah kesan segar dan memuaskan dahaga bagi yang meminumnya.
.
Spaghetti plate, diatas table top

3. Tata Cahaya 
Pencahayaan menjadi yang paling krusial. Jika memotret di studio yang memiliki lampu lengkap tidak akan masalah namun membawa makanan ke studio tentu akan sulit. Umumnya pemotretan dilakukan di tempat pemilik menu / restoran dan fotografer yang harus membawa peralatannya. Pada foto - foto dalam artikel ini menggunakan pencahayaan dengan 2 lampu studio dengan softbox yang besar dari arah kanan dan kiri objek dan bila diperlukan tambahan 1 lampu dari atas subjek. Untuk mendapatkan pencahayaan yang cukup maka proses trial and error diperlukan untuk mengatur kuat cahaya dari masing-masing lampu dan ini butuh latihan yang cukup sering.

Pengaturan cahaya dengan tiga lampu (sumber: www.foodportfolio.com)
Birthday Cake, diatas table top dengan komposisi terpotong

4. Olah Digital

Proses editing pasca pemotretan sama seperti objek lain namun sebisa mungkin lakukian olah digital yang minim saja misalkan cropping, pencahayaan (brightness, contrast, level). Olah digital yang berlebihan dapat menghilangkan mood dari konsep yang ditentukan sebelumnya.

Nasi Tumpeng, contoh penataan diatas meja makan
Saya bukan fotografer yang ahli dalam food photography namun saya percaya dengan banyak latihan kemampuan akan semakin meningkat. Dan jangan lupa upload hasil setelah latihan, akan banyak kritik dan saran dari orang lain yang dapat memperbaiki hasil karya kita.


No comments:

Post a Comment