Bli Tudik : Tanjung Layar Sawarna

15 May 2013

Tanjung Layar Sawarna

Membuka file foto saat ke Sawarna dua tahun lalu membuat saya tergerak untuk menceritakan perjalanan saya ke Sawarna. Sudah lama sekali saya ingin untuk jalan-jalan ke Sawarna. Akhirnya dari forum fotografer saya dapat teman untuk traveling ke sana. Kami akhirnya menyewa minibus untuk berangkat. Perjalanan kami pilih untuk lewat jalur sukabumi yaitu lewat Pelabuhan Ratu karena lewat Lebak Banten jalannya tidak terlalu bagus. Perjalanan lumayan lancar, namun setibanya di daerah Cikakak kendaraan yang kami tumpangi mengalami kecelakaan. Sopir travelnya sedikit mengantuk dan mobil menabrak batu pembatas got. Untungnya tidak sampai terperosok dan mobil yang agak penyok masih bisa jalan. Kami menuju puskesmas Cikakak untuk mengobati teman-teman yang luka dan lecet. Perjalanan pun dilanjutkan dengan mobil yang bempernya penyok namun mesin dan AC nya masih baik-baik saja.

Tanjung Layar Sawarna

Setibanya di Sawarna kami bergegas menuju salah satu rumah penduduk tempat kami menginap. Disini banyak rumah-rumah penduduk yang kala ramai pengunjung yang datang ke Sawarna berubah menjadi homestay bagi para turis. Keesokan hari kami berjalan menelusuri jalan setapak menuju Tanjung Layar. Terobati sudah rasa penasaran saya begitu melihat batu karang yang tinggi yang khas, kalau saya bilang ini adalah maskot dari Sawarna.

Disebelah batu layar terdapat barisan karang yang seolah membentuk barikade untuk menghalangi derasnya ombak laut selatan. Derasnya ombak membuat suara deburan menjadi semakin keras, itulah uniknya pantai ini.

Barisan batu karang pelindung pantai tanjung layar

Ombak yang menghantam karang
 Para pengunjung yang datang dapat berjalan ke tanjung layar saat surut, meskipun surut tetap aja masih basah-basahan. Saat asik menikmati deburan ombak tiba-tiba saya terkejut dengan keberanian seorang penangkap ikan yang menebar jalanya di sekitar karang pembatas. Orang tersebut tidak mempedulikan ombak besar yang menerjang dan asik menangkap ikan.

Sang nelayan pemberani
Aksi nelayan pemberani
Jika air sedang surut maka kita dapat berjalan agak ke tengah pantai. Namun harus hati-hati karena pantainya berbatu dan agak licin. Para pengunjung banyak yang rela berbasah basahn untuk menuju batu layar tapi kalau saya cukup bernarsis ria di tepi pantai aja.

Narsis di Tanjung Layar
Saat pulang keesokan hari adalah pengalaman yang melelahkan, jalur yang kami lalui sangat berat sering kali penumpang harus turun karena mobil tidak kuat menanjak. Namun lelahnya terobati dengan pemandangan indah di sepanjang jalan.

Medan yang berat di Sawarna
Mobil yang mengantar kami ke Sawarna

No comments:

Post a Comment