Bli Tudik : Berkunjung ke Melaka

25 November 2012

Berkunjung ke Melaka

Melaka adalah salah satu kota yang ingin saya kunjungi jika ke malaysia. Mungkin karena di Melaka terdapat salah satu UNESCO world heritage city yaitu di sekitar kompleks Stadthuys yang sangat terkenal. Akhirnya keinginan saya menjadi kenyataan. Ada budget flight, budget hotel dan cuti panjang,  pada tanggal 19 nopember 2012  saya backpackeran sendiri ke malaysia.
Hang Tuah bridge

Memang betul kata sahabat backpacker lain, perencanaan adalah hal yang sangat penting. Sebelum berangkat saya sudah melakukan sedikit riset tentang tempat-tempat yang ingin saya kunjungi di Melaka dan bagaimana akses menuju kesana. Namun terkadang situasi di lapangan dapat berbeda dengan perencanaan. Setibanya di LCCT sekitar jam 10.45 saya merasa sedikit bingung.

Rencana saya ke Melaka adalah dengan naik bus Transnasional yang langsung ke Mahkota Medical center (tempat yang dekat dengan kompleks stadthuys) namun apa daya, saya tertinggal jadwal bus tersebut jam 11.30.  Tertinggal karena saya lama berputar-putar untuk mencari loket penjualan tiketnya. Setelah tanya sana-sini akhirnya saya tahu kalau loketnya di terminal kedatangan domestik LCCT. Menunggu hingga jadwal berikutnya jam 2 siang saya merasa malas sekali. Saya orang yang tidak suka menunggu. Plan B saya adalah ke KLIA (Bandara kuala Lumpur yang sebenarnya) dan naik kereta ke Terminal Bersepadu Selatan di Bandar Tasik Selatan.

Setelah membeli veg burger (karena saya vegetarian) sayapun putar-putar cari bus di kedatangan internasional dan menemukan bus berwarna ungu. Setelah bertanya ke petugas karcis ternyata bisa ke Bandar Tasik Selatan tetapi ditransfer ke ERL KLIA Transit di stasiun Salak Tinggi. Tiketnya hanya RM 10.8. Tanpa berpikir panjang sayapun naik bis tersebut. Sopirnya engkoh-engkoh udah tua dan gemuk dan lucunya lagu yang disetel di bis adalah lagunya Afgan (wah disini penggemarnya banyak juga).

Sekitar 20 menit perjalanan akhirnya sampai di stasiun Salak Tinggi, dengan menunggu lima menit sayapun naik kereta KLIA Transit ke Bandar Tasik Selatan. Keretanya sangat nyaman, ada cukup tempat duduk untuk semua penumpang dan yang penting adalah sangat cepat. Saking cepat tak terasa 20 menit kemudian saya sampai di terminal bersepadu selatan (TBS). TBS adalah terminal bis-bis menuju selatan malaysia termasuk bis yang ke singapura. Memasuki terminal ini berasa masuk bandara saja karena saking bersih dan rapi. Loketpun tersedia banyak dan kita bisa membeli tiket bis ke semua jurusan. Saya mencari bis yang jadwalnya paling dekat yaitu Metrobus jam 13.25 ke Melaka seharga RM 9.

Setelah 2 jam perjalanan akhirnya saya tiba di terminal bis Melaka Sentral. Karena masih sedikit mengantuk, saya beristirahat sejenak sambil bertanya ke petugas informasi bis mana yang harus saya naiki menuju stadthuys. Atas petunjuk petugas tersebut saya naik bis no 17 tujuan mahkota. Bus nya mirip bus eks-jepang nya PPD dengan AC yang dingin dan cukup membayar RM 1.3 dalam waktu 15 menit saya pun tiba di stadthuys.
Memang benar kata sahabat backpacker lain suasana disini seperti bukan di malaysia tapi di eropa. Bangunannya khas eropa dengan dinding di cat merah dan banyak sekali turis-turis asing yang lalu-lalang. Karena ransel saya terasa sangat berat maka saya bergegas menuju penginapan yang saya booking lewat agoda yaitu D'laksamana. Karena google map saya tidak aktif, saya sedikit kesulitan mencari lokasi nya, namun dengan sedikit perjuangan akhirnya ketemu juga. Saat sampai ada pengumuman di depan pintu bahwa tamu yang mau cek-in harus telpon pemiliknya dulu. Dalam hati saya tertawa (wah...tekor pulsa roaming nih!).

Penginapannya adalah rumah biasa yang dimodif jadi guesthouse, ada  4 kamar dengan kamar mandi di luar (shared bathroom) namun bersih sekali dan interiornya sangat bagus. Hari itu saya pun jadi tamu satu-satunya disana. Setelah meletakkan ransel, saya mengambil tas kamera, tripod dan payung (ini peralatan yang paling fital yang harus dibawa, maklum musim hujan).

Berjalan sepanjang pinggir sungai melaka sangat nyaman. Trotoar sepanjang sungai dan jembatan untuk menyeberang ke sisi sebelahnya. Rencana saya adalah berjalan sampai Kampong Morten, namun karena ada pembangunan gedung dan ada asap gak jelas saya hanya sampai di Pirates Park. Disana saya makan malam dengan nasi goreng...(lumayan nih). Saat waktu menunjukkan pukul 7 malam lewat, itulah blue hour time bagi saya yang hobi landscape photography.

Sayapun mulai dari memotret jembatan Hang Tuah yang dihiasi lampu warna warni.
Kemudian jembatan penyebrangan pirates park.
Setelah berjalan ke seberang sayapun mulai memotret suasana di sekitar Pirates Park, terutama Ferris Wheel yang saya kira miniatur Eye on Melaka yang tidak ada lagi.
Pirates Park

Pirates Park


Ferris Wheel


Pirates Park


Area Pirates Park

Setelah puas di pirates park saya pun berjalan menuju penginapan, sambil memotret tempat tempat sepanjang sungai melaka yang saat malam dihiasi lampu warna-warni (perkiraan saya sengaja dihias untuk jualan paket wisata river cruise).
Nightview Sungai Melaka

Kafe di sekitar sungai


Gereja St.Xavier


Perumahan sepanjang sungai

Setibanya di stadthuys masih cukup ramai turis, dan becak hias pun masih beroperasi, padahal saya berjalan sepanjang sungai sangat sepi sekali.
Stadthuys
Bergeser sedikit saya memotret Casa del Rio hotel paling mewah disepanjang sungai.

Casa del Rio
Dari casa del Rio saya bisa memotret musium kapal, menara Taming Sari dan warung-warung yang masih buka sampai malam hari.

Menara Taming Sari
 Kembali ke penginapan, saya pun mandi dan beristirahat, siap siap untuk hunting keesokan hari.

Pagi-pagi setelah mandi dan merapikan bawaan, sayapun bergegas ke area stadthuys untuk sekedar membeli gantungan kunci buat oleh-oleh, sarapan pagi dan bernarsis ria. Setelah checkout (hanya gantungkan kunci dipintu dan chao...), sayapun dengan menggendong ransel 75L berjalan disekitar stadthuys, musium umno, sampai di A Famosa (sisa benteng jaman portugis berkuasa di Melaka). Karena tidak kuat menahan capek dan beratnya ransel, sayapun mencari taksi untuk pergi ke Melaka Sentral. Ongkosnya lumayan mahal RM 20 untuk jarak yang tidak seberapa. Di Melaka sentral saya membeli tiket bus ke Kuala Lumpur (TBS)  yaitu bus transnasional dan yang membuat saya terkejut adalah tarifnya yang lebih mahal dari tarif metrobus KL-Melaka kemarin yaitu RM 12.30 padahal rasanya sama saja.

Chinatown

Jonker Street
Kincir angin peninggalan Belanda


Gedung Kemerdekaan

A Famosa


it's me


narsis nih!




No comments:

Post a Comment